• Awasi Game Bertemakan Kekerasan

    Sabtu, 14 April 2012 11:33:22 | Diposting oleh, syarif | Kategori: Others | Dibaca 2649 kali


    Jakarta - Suka game "berantem-berantem-an"! , awas, hati-hati, jangan keseringan, apalagi sampai game yang mengandung kekerasan tersebut dimainkan oleh anak dibawah usia, yang masih belum mengerti tentang baik dan benar sesuai takaran normal. belum lagi banyaknya adegan penuh darah dan penyiksaan yang mungkin akan sedikit banyak bisa mempengaruhi kondisi psikologinya, secara sadar ataupun ridak sadar.

    Jadi wajar saja jika game bertema kekerasan dituding menjadi salah satu pemicu perilaku kekerasan, terutama pada anak-anak. Dan memang, sejumlah penelitian telah membuktikannya. Lantas, bagaimana game bisa mempengaruhi perilaku?

    Awasi Game Bertemakan Kekerasan

    Disebutkan Yunita Faela Nisa,seorang psikolog sekaligus Kepala Laboratorium Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, "kita pada umumnya sangat cepat meniru apa yang dilihat, apalagi di usia kanak-kanak".

    Seperti dikutip dari Detik, Yunita mengatakan bahwa "Dari sisi neuropsychology, terungkap ada yang namanya mirror neuron, sederhananya dalam otak kita ada bagian semacam cermin. Ketika kita melihat sesuatu dan itu menimbulkan ketertarikan, kita akan mengikuti," terang Yuni saat perbincangan tersebut 

    Dijelaskannya, efek mirror neuron ini terbagi menjadi dua, ada yang spontan dan yang tidak. Contoh spontan yang sederhana adalah ketika di lift melihat semua orang menghadap pintu, kita akan ikut menghadap pintu padahal saat masuk kita menghadap ke tembok.

    "Jadi kita memang cenderung mengikuti apa yang kita lihat, secara neuropsychology memang sudah terbukti sepert itu," ujarnya. Nah, apalagi jika seseorang terpapar terus menerus seperti bermain game kekerasan, dikatakannya mirror neuron berperan sehingga orang itu akan menirunya.

    Untuk mencegahnya, menurut Yuni tak dapat dipungkiri pengawasan dari orangtua berperan di urutan teratas. Orangtua harus melakukan intervensi dan menerapkan kontrol diri pada anak.

    "Seberapa cepat seorang anak terpengaruh tergantung terhadap kontrol diri juga. Nah latihan kontrol diri ini misalnya orangtua tidak harus selalu menuruti kemauan si anak. Anak-anak yang self control-nya rendah, kecenderungan menirunya lebih besar dan cepat," tutupnya.

     

     

    Pada intinya sih, bermain game boleh dan sah-sah saja, apalagi untuk menghilangkan kejenuhan dan stress yang melanda fikiran. akan tetapi untuk anak-anak memang dibutuhkan pengawasan yang lebih terutama dalam permainan yang mengandung unsur kekerasan, dan bila ingin bermain (untuk anak-anak), berikanlah game yang sedikit banyak mengandung unsur perndidikan dan moral yang cukup baik ^^, salam IDGS.

     

    Forum IDGS News Games Indonesia & Internasional

  • Untuk memberikan komentar anda harus login atau register.
  • Komentar 0

  • online support
  • idgs radio
  • Social Indogamers