• Fenomena Loot Box dan Pay-to-Win Bisa Jadi Ilegal Berkat Senator Asal AS Ini

    Senin, 27 Mei 2019 13:32 | Diposting oleh, Stefanus | Kategori: News


    Fenomena Loot Box dan Pay-to-Win Bisa Jadi Ilegal Berkat Senator Asal AS Ini

    Senator Amerika Serikat dari Partai Republik, Josh Hawley. (Hotspawn)

    IDGS, Senin, 27 Mei 2019 - Gatcha dan loot box sudah jadi bagian dari video game zaman sekarang ini. Pemain diharuskan membayarkan sejumlah uang (atau mata uang lain dalam game yang hanya bisa didapatkan dengan uang nyata) demi membuka loot box dengan harapan memperoleh skin, senjata, hero, atau item-item di dalam game yang mereka inginkan. Seringkali konsep gatcha maupun loot box ini diasosiasikan dengan mekanism pay-to-win (membayar untuk menang) bahkan perjudian. 

    Hal ini membuat seorang senator asal Amerika Serikat, Senator Republikan Josh Hawley resmi merilis rencananya menghadapi fenomena loot box serta mekanisme pay-to-win dalam video game untuk dijadikan undang-undang. Tak hanya itu, Hawley ternyata juga didukung oleh dua sponsor yang uniknya berasal dari rival politik partainya, partai Demokratis. 

    "Sangat sederhana. Perusahaan-perusahaan video game tidak seharusnya menempatkan kasino (loot box dan gatcha) ke dalam permainan anak-anak. [Saya] bangga akan usaha bipartisan (kerjasama dari dua belah pihak yang berseberangan) ini [dalam menghadapi fenomena loot box dan gatcha dalam video game]," ungkap Hawley di Twitter. 

    Dua sponsor dari Rancangan Undang-Undang (RUU) anti gatcha dan loot box yang disebut "Protecting Children from Abusive Games Act," antara lain adalah Senator Demokratis Richard Blumenthal dari Connecticut dan Ed Markey dari Massachusetts. 

    RUU tersebut meminta agar Kongres AS meregulasi mikrotransaksi bersifat pay-to-win di dalam video game, serta mencoba melarang konsep loot box di dalam video game yang ditujukan untuk usia 18 tahun ke bawah. Secara spesifik, RUU tersebut menyebutkan bahwa "adalah ilegal bagi publisher [video game] untuk merilis video game yang berorientasi anak di bawah umur dengan fitur mikrotransaksi pay-to-win atau loot box (gatcha), dan juga mengharuskan game-game yang telah dirilis sebelumnya untuk menerima update yang selaras dengan peraturan." 

    Kunci dari RUU tersebut adalah definisi dari mekanisme pay-to-win: 

    "Mempermudah proses perkembangan seorang pengguna di dalam konten [video game] atau tersedia di dalam game di mana seharusnya tak perlu membayar lewat transaksi seperti itu."

    "Mendukung seorang pengguna dalam meraih sebuah pencapaian di dalam game yang bisa diraih tanpa membayar lewat transaksi seperti itu." 

    "Mendukung seorang pengguna menerima imbalan yang diasosiasikan dengan game tersebut yang seharusnya tersedia dalam asosiasinya dengan game tersebut tanpa harus membayar lewat transaksi seperti itu." 

    "Sebuah transaksi pembelian yang mengizinkan seorang pengguna melanjutkan aksesnya terhadap konten di dalam game yang sebelumnya dapat diakses oleh pengguna itu namun dibuat tak bisa diakses karena telah melewati durasi waktu tertenti atau setelah berapa kali mencoba dalam hal gameplay." 

    Sedangkan loot box didefinisikan sebagai: 

    "Sebuah item yang dibuat secara acak atau acak sebagian untuk memberi sebuah fitur dari produk (video game) tersebut atau menambah atau meningkatkan nilai-nilai entertainment ke dalam produk tersebut tanpa memperlihatkan konten sebenarnya hingga terjadi transaksi pembelian dari loot box tersebut."

    Terdapat pula pengecualian dalam RUU tersebut, yakni tingkat kesulitan dalam game, item-item kosmetik (skin, avatar) yang tidak memengaruhi gameplay, serta konten add-on seperti DLC pack dan ekspansi. 

    Nantinya dengan RUU tersebut, Hawley mengaku dapat meminta pelarangan atas praktik pay-to-win serta lootbox dan gatcha kepada Komisi Perdagangan Federal. 

    Selain membahas pelarangan dari loot box, gatcha maupun mekanisme pay-to-win, RUU tersebut juga meminta diadakannya sebuah studi akan efek dari mekanisme pay-to-win dan loot box yang harus dikomisi maksimal 2 tahun setelah RUU tersebut disahkan. 

    Alasannya adalah karena Hawley dan sponsornya ingin menganalisa efek psikologis dari mikrotransaksi pay-to-win dan loot box terhadap pengguna, sekaligus mempelajari perkembangan prakte-praktek dalam game yang terkait dengan mikrotransaksi pay-to-win serta loot box. 

     

    (stefanus/IDGS)


    Sumber

  • Untuk memberikan komentar anda harus login atau register.
  • Komentar 0

  • idgs radio
  • Social Indogamers